Sejak dulu bangsa Indonesia sudah dikenal dengan negara kepulauan terbesar di dunia, negara yang memiliki biodiversity terbesar kedua setelah Brazil. Semua itu merupakan anugerah dari Sang Pencipta bagi seluruh rakyat Indonesia. Sesuatu yang berharga jika tidak dijaga dengan baik sudah tentu akan rusak dan mungkin dapat membawa petaka. Kita sebagai penghuni dunia ini hanya bisa menebak tanpa bisa mengetahui secara pasti kapan akan terjadi petaka yang dapat berupa bencana alam.
Bumi pertiwi Indonesia seakan sudah lelah dengan perilaku penghuninya, manusia yang menginjakkan kakinya seakan tidak pernah berhenti untuk merusak alam. Tidak tahu sampai kapan bumi ini mampu menampung dosa-dosa yang telah dibuat. Exploitasi sumber daya alam secara besar-besaran telah merambah ke setiap penjuru hutan di Indonesia. Setiap tahun populasi manusia semakin bertambah, hal ini pula yang menjadi faktor mengapa sering terjadi konflik antara satwa dengan manusia dan bencana alam yang terjadi di penjuru negara.
Sering sekali kita melihat di media cetak atau di media elektronik satwa menyerang warga. Seperti gajah menyerang perkampungan, harimau menyerang petani. Tidak sedikit jumlah korban jiwa dari pihak manusia ataupun satwa yang meregang nyawa akibat konflik ini. Jumlah Populasi manusia yang berkembang memang sulit di bendung di Indonesia, sehingga bagi mereka yang tinggal di pinggir hutan akan selalu masuk ke bagian terdalam hutan untuk menyambung hidup. Hal ini semakin memungkinkan konflik terjadi, karena setiap satwa memiliki perilaku home range atau wilayah yang selalu dilewati oleh satwa. Seperti satwa gajah yang memiliki home range yang sangat luas akan melewati jalan yang sama setiap tahunnya. Ketika kelompok gajah yang dapat terdiri dari 5-15 gajah melewati jalan yang sama untuk mencari makan, mereka menemukan lahan pertanian dan perkampungan warga. Sudah dapat dipastikan warga akan mempertahankan kebun dan rumahnya, begitu juga kelompok gajah yang menganggap wilayah tersebut merupakan wilayah mereka.
Disinilah diperlukan adanya peran pemerintah sebagai penengah permasalahan pelik yang kurang diperhatikan pemerintah pusat yang hanya sibuk dengan masalah impor daging. Peran pemerintah sangat penting untuk menyelamatkan kedua belah pihak agar tidak jatuh korban jiwa. Kita tidak bisa memandang masalah ini sebelah mata, tidak ada yang harus dirugikan ataupun diuntungkan dalam konflik ini. Manusia dan satwa merupakan ciptaan Tuhan YME yang keberadaannya sama-sama penting di bumi ini. Manusia yang memiliki akal dan pikiran seharusnya bisa melihat jauh kedepan bagaimana mengatasi masalah ini dengan cara mencegah terjadinya konflik. Tentu diharapkan adanya bantuan dari para ahli yang bisa memberikan pendidikan dan penjelasan kepada warga yang hidup dan tinggal di daerah pinggir hutan untuk tetap menjaga kestabilan alam.
Sebenarnya sudah ada Undang-undang ataupun Perda yang mengatur tentang ketertiban mengelola hutan. Namun faktor keterbatasan personil dilapangan dalam hal ini polisi hutan dan ranger yang sangat terbatas, sangat tidak mungkin dapat menghindari setiap konflik yang terjadi. Permasalah ditingkat yang lebih tinggipun dapat terjadi, mungkin anda pernah mendengar Taman Nasional Batang Gadis yang berada di Kabupaten Mandailing Natal yang digugat oleh perusahaan internasional untuk mejadi hutan produksi agar dapat dieksploitasi. Siapa yang tidak sedih mendengar kabar tersebut, terkadang orang yang berpendidikan tinggi tidak diimbangi dengan hati nurani dan kebijaksanaan yang tinggi pula.
Tidak akan ada habisnya jika kita selalu melihat kebelakang, kesalahan demi kesalahan yang telah diperbuat oleh pendahulu kita. Sekarang adalah saatnya kita kembali membangun bumi pertiwi kita kembali, mari kita bangkit dan sadar akan betapa pentingnya menjaga kelestarian alam. Bukan hanya untuk anak cucu kita saja, tetapi untuk kita sendiri yang hidup di dunia ini sekarang juga.
No comments:
Post a Comment